Showing posts with label hadis. Show all posts
Showing posts with label hadis. Show all posts

Friday, November 15, 2013

taubat maksiat taubat maksiat,then??


kopipes dari 

http://peribadirasulullah.files.wordpress.com/2013/11/52086-taubatmaksiatblog.png?w=500
Maksiat Lagi Taubat Lagi Maksiat Lagi. Bismillah, sering kali kita berusaha untuk bertaubat, namun maksiat lagi, taubat lagi, maksiat lagi, taubat lagi, maksiat lagi. Berikut nasihat yang indah menganai hal seperti itu.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz


Pertanyaan

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Aku seorang pemuda berusia 19 tahun. Aku telah berbuat aniaya terhadap diriku sendiri dalam banyak kemaksiatan sehingga aku sering tidak shalat di masjid, tidak puasa Ramadhan secara sempurna selama hidupku, dan aku melakukan perbuatan-perbuatan tercela lainnya. Seringkali diriku berjanji untuk bertaubat, tetapi aku kembali bermaksiat, dan aku berteman dengan para pemuda di kampung kami yang tidak benar-benar istiqamah. Demikian pula kawan-kawan, saudara-saudaraku, seringkali datang ke rumah kami, dan mereka bukan orang-orang yang shalih juga. Allah tahu bahwasanya aku telah banyak berbuat aniaya terhadap diriku sendiri dalam kemaksiatan-kemaksiatan dan aku melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk. Tetapi setiap kali aku bertekad untuk bertaubat, maka aku kembali lagi seperti semula. Aku berharap agar engkau menunjukkan kepadaku pada suatu jalan yang mendekatkanku kepada Tuhanku dan menjauhkan dari perbuatan-perbuatan yang buruk ini.


Jawaban

“Artinya : Katakanlah, ‘Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang[Az-Zumar : 53]

Para ulama bersepakat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang bertaubat. Barangsiapa yang bertaubat dari dosa-dosanya dengan taubat yang semurni-murninya, maka Allah mengampuni dosa-dosanya semuanya, berdasarkan ayat ini dan berdasarkan firmanNya.

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menutupi kesalahan-kesalahan dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai [At-Tahrim : 8]

Allah Subhanahu wa Ta’ala mempertalikan penghapusan kesalahan-kesalahan dan masuk surga pada ayat ini dengan taubat yang semurni-murninya, yaitu perbuatan yang mencakup meninggalkan dosa, waspada terhadapnya, menyesali apa yang pernah dilakukannya, bertekad bulat untuk tidak kembali kepadanya, karena mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, menginginkan pahalanya, dan takut terhadap siksanya.

Dan diantara syarat taubat ialah mengembalikan hak-hak yang dizhalimi kepada yang berhak menerimanya atau mereka yang memaafkannya, jika kemaksiatan tersebut berupa kezhaliman yang menyangkut darah, harta dan kehormatannya, maka ia banyak berdo’a untuknya, dan menyebut kebaikan-kebaikan amal yang dilakukan olehnya di tempat-tempat di mana ia pernah mengunjingkannya; karena kebaikan-kebaikan akan menghapuskan keburukan-keburukan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : 
Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung [An-Nur : 31]

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaitkan dalam ayat ini keberuntungan dengan taubat. Ini menunjukkan bahwa orang yang bertaubat itu orang yang beruntung lagi berbahagia. Jika orang yang bertaubat mengiringi taubatnya dengan iman dan amal shalih, maka Allah menghapuskan keburukan-keburukannya dan menggantinya dengan kebajikan-kebajikan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Al-Furqan, ketika menyebutkan kesyirikan, membunuh dengan tanpa hak dan zina.

“Artinya : Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain berserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih ; maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [Al-Furqn ; 68-70]

Di antara sebab taubat ialah ketundukan kepada Allah, memohon hidayah dan taufik kepadaNya, serta agar Dia memberi karunia berupa taubat kepadamu. Dialah yang berfirman.

“Artinya : Berdo’alah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu [Al-Mukmin : 60]

Dialah yang berfirman.
“Artinya : Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan pemohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepadaKu [Al-Baqarah : 186]




Diantara sebab-sebab taubat juga dan istiqomah di atasnya ialah berteman dengan orang-orang yang baik 

dan meneladani amalan-malan mereka, serta menjauhi berteman dengan orang-orang yang jahat. Shahih dari 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda.

“Artinya : Seseorang itu tergantung agama temannya, maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan kepada siapa berteman [Hadits Riwayat Abu Daud dalam Al-Adab, 4833,At-Tirmidzi dalam Az-Zuhud 2378, Ahmad 8212]


Beliau bersabda.

“Artinya : Perumpamaan teman yang shalih dan teman yang buruk ialah seperti pembawa minyak wangi dan pandan besi.Pembawa minyak wangi mungkin akan memberi minyak kepadamu, kamu membeli darinya, atau kamu mencium baunya yang harum. Sedangkan pandan besi, mungkin akan membakar pakaiannmu atau kamu mencium bau yang tidak sedap” 
[Hadits Riwayat Al-Bukhari alam Al-Buyu 2102, Muslim dalam Al-Birr wa Ash-Shilah 2628]

[Kitab Ad-Da’wah, Al-Fatawa, hal.251, Syaikh Ibnu Baz]







jangan berlebihan dalam memuji

http://peribadirasulullah.files.wordpress.com/2013/11/116c7-janganmemujiblog.png?w=500
Jangan Berlebihan Dalam Menyanjung | al-uyeah.blogspot.com
Bismillaah, salah satu pesan Rosulullah Shalallahi’alaihiwasalm kepada umatnya adalah untuk tidak berlebihan memuji beliau. Perhatikan.

وَعَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُولُوا: عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ) أَخْرَجَاهُ.

Dari Umar radhiyallâhu ‘anhû, (beliau berkata): Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam hal memujiku sebagaimana orang-orang Nashrani telah berlebih-lebihan dalam hal memuji (Isa) putra Maryam. Aku hanyalah seorang hamba maka katakanlah, ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya’.” Dikeluarkan oleh keduanya (Al-Bukhâry dan Muslim).

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda;
 
“Jangan kalian memujiku, lalu kalian berlebihan dalam memuji diriku sebagaimana orang-orang Nashara telah berlebihan (dalam memuji) terhadap Isa ‘alaihis salam, sehingga mereka menyatakan bahwa Isa memiliki sifat-sifat ulûhiyyah. Sesungguhnya aku tidak lebih hanyalah seorang hamba Allah dan utusan-Nya, maka sifatilah aku dengan itu. Jangan kalian mengangkat diriku melebihi kedudukan yang telah ditentukan oleh Allah untukku.”

Sesungguhnya Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam melarang untuk bersikap ghulûw ‘berlebih-lebihan’ terhadap diri beliau berupa memberi suatu spesifikasi sifat rubûbiyyah. Hal ini menunjukkan tentang keharaman sikap ghulûw, dan bahwa hal tersebut akan mengantar kepada kesyirikan sebagaimana sikap tersebut telah mengantar orang-orang Nashara (untuk berbuat kesyirikan terhadap Allah) dalam sikap mereka kepada Isa.


Faedah Hadits

1. Diharamkannya melampaui batas dalam memuji Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan mengeluarkan beliau dari lingkaran kehambaan, karena hal itu termasuk kesyirikan kepada Allah.
2. Kekuatan dan ketegasan nasihat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya.
3. Bahwa sikap ghulûw terhadap orang shalih adalah suatu sebab yang dapat menjatuhkan ke dalam kesyirikan.
4. Peringatan dari penyerupaan kepada orang-orang kafir.

sumber : dzulqarnain.net
Perhatikan, jangan meletakkan sifat-sifat ulûhiyyah kepada Rosulullah Shalallahi’alaihiwasalam. Allah Maha Mendengar setiap doa hambaNya, Rosulullaah bukan maha mendengar setiap doa umatnya. Allah Maha Melihat, Berkuasa atas segala sesuatu, Rosulullah tidak. Atas ijin Allah ‘Azza wa Jalla kita bisa terlepas dari musibah, memenuhi segala hajat dalam hidup ini, dan itu bukan atas ijin Rosulullah. Wallahua’lam

Wednesday, November 21, 2012

sucikan jiwa dan dosa dgn majlis ilmu

 
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
“Allah mempunyai malaikat yang berterbangan di seluruh pelosok bumi untuk mencari dan menulis amal baik manusia. Apabila mereka menjumpai sekumpulan manusia ber-dzikir kepada Allah lalu mereka menyeru sesama mereka: “Marilah ke sini, kita telah menemui apa yang kita cari.” Lantas mereka datang berduyun-duyun sambil menghamparkan sayap menaungi orang-orang yang sedang ber-dzikir itu.

Selepas itu lalu Allah bertanya kepada para malaikat, “Apakah yang sedang dilakukan hamba-hamba-Ku itu ketika kamu meninggalkan mereka?” Malaikat menjawab, “Mereka di dalam keadaan memuji, mengagungkan dan bertasbih kepada-Mu wahai Allah.” Allah bertanya lagi, “Apakah mereka itu pernah melihat-Ku?” Jawab malaikat, “Tidak pernah!” Allah terus bertanya, “Bagaimana sekiranya mereka melihat-Ku?” Jawab malaikat, “Jika mereka melihat-Mu, niscaya mereka akan lebih mengagungkan-Mu, bertasbih dan bertahmid kepada-Mu ya Allah."

Allah bertanya lagi, “Mereka memohon perlindungan-Ku dari apa?” Malaikat menjawab, “Dari neraka.” Allah bertanya, “Apakah mereka pernah melihat neraka?” Jawab malaikat, “Tidak pernah!” Allah bertanya, “Bagaimana sekiranya mereka dapat melihat neraka?” Malaikat menjawab, “Mereka akan lari sejauh-jauhnya dari neraka karena takutnya.” Allah bertanya, “Apakah permintaan mereka?” Malaikat menjawab, “Mereka meminta dari-Mu syurga.” Allah bertanya, “Apakah mereka pernah melihat syurga?” Jawab malaikat, “Tidak pernah.” Allah bertanya, “Bagaimana sekiranya mereka dapat melihat syurga?” Malaikat menjawab, “Mereka sangat ingin untuk memperolehnya,” Lalu Allah berkata, “Sesungguhnya aku bersaksi, bahwa aku telah mengampunkan mereka.”

Para malaikat bertanya pula, “Wahai Allah! Seseorang telah datang ke dalam kumpulan ini dan dia tidak turut serta untuk menjadi sebahagian daripada mereka.” Allah menjawab, “Mereka ini adalah segolongan manusia yang tidak menyakiti orang yang menyertai mereka.” 
(HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...