Showing posts with label Muharram. Show all posts
Showing posts with label Muharram. Show all posts

Wednesday, November 13, 2013

berburu berkah di bulan muharram

dakwatuna.com – Muharram termasuk salah satu dari empat bulan yang dimuliakan Allah, selain Dzulqaidah, Dzulhijjah, dan Rajab. Dalilnya sudah jelas, sebagaimana dituturkan Allah dalam Al-Quran.

Sungguh bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat Bulan Haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS At-Taubah/9: 36).

Kenapa disebut Bulan Haram? Ibnu Muhammad Al-Jauzi dalam kitab ‘Zad Al-Masir fi Ilm At-Tafsir’ menjelaskan, dinamakan Bulan Haram karena dalam empat bulan itu diharamkan pembunuhan atau peperangan, sebagaimana juga diyakini kaum Jahiliah sebelum Islam datang di bumi Mekah. Selain itu, karena pahala kebaikan di Bulan Haram akan dilipatkan dan demikian pula dosa keburukan.

Kendati demikian, bukan berarti bulan-bulan di luar Bulan Haram tidak mulia. Seperti Ramadhan, jelas bulan penuh kasih sayang, pengampunan, dan keberkahan. Umat Islam jangan lagi terjebak kepada pemahaman dangkal, sebagaimana ketika memahami keutamaan surat atau ayat Al-Quran tertentu. Dipersepsi, misalnya, hanya surat Yasin yang memiliki keutamaan dahsyat. Muncullah tradisi Yasinan, sementara tidak pernah ada tradisi Al-Fatihahan, Al-Baqarahan, Ali Imranan, An-Nisaan.

Penting juga dicatat, sebagian kalangan beranggapan bahwa orang yang paling berjasa dalam menetapkan kalender Hijriah sebagai identitas penanggalan Islam adalah Umar bin Khattab. Anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Imam As-Suyuti mengungkapkan fakta lain. Menurut murid dari ulama kenamaan bermazhab Hanafi, Taqiyuddin As-Subki, itu ternyata Umar bin Khattab bukan sosok pertama yang menyerukan penggunaan kalender Hijriah. Ibnu Asakir dan Ibnu Shalah membenarkan pendapat ini.

Berdasarkan riwayat yang paling kuat, Rasulullah pernah berkirim surat kepada umat Nasrani di Najran. Dalam surat itu, Rasulullah memerintahkan Ali bin Abu Thalib supaya menuliskan kalimat, “Surat ini ditulis pada hari kelima sejak hijrah”. Karena itu, menurut As-Suyuti, ketika Umar bin Khattab hendak menetapkan sistem kalender Islam, dia mengumpulkan para sahabat dan meminta saran mereka. Peristiwa itu terjadi ketika pemerintahan Umar bin Khattab berjalan dua setengah tahun. Setelah mendapatkan masukan, dia lantas memilih pendapat Ali bin Abu Thalib bahwa acuannya ialah peristiwa hijrah. Dengan kata lain, kalender Hijriah memang baru digunakan secara resmi di masa Khalifah Umar bin Khattab, tetapi ide dan penetapannya berasal dari Rasulullah sendiri.

Nama Hijriah jelas mengacu pada peristiwa hijrah dari Mekah ke Madinah. Ada hikmah besar di balik peristiwa itu. Kalender Hijriah bukan penanggalan biasa. Lebih dari itu, kalender yang dimulai dengan Muharram itu merupakan sebuah identitas dan jati diri umat Islam. Dipilihnya Hijriah sebagai nama kalender Islam, lantaran peristiwa hijrah itulah tonggak peradaban Islam. Hijrah merupakan torehan sejarah yang berhasil meletakkan garis tegas antara hak dan batil.

Kenapa Muharram dipilih sebagai permulaan bulan, padahal hijrah terjadi di bulan Rabiul Awal? Para ulama lalu mengemukakan alasan, karena pada bulan Muharram jamaah haji pulang dari Tanah Suci Mekah ke kampung halaman. Dari segi kronologi hijrah, Muharram juga dinilai sebagai embrio hijrah. Sebab, Rasulullah telah bertekad untuk hijrah dari Mekah ke Madinah sejak bulan Muharram.

Sangat disayangkan kalau masih ada kepercayaan berbau takhayul dan khurafat. Umat Islam jangan lagi memiliki kepercayaan bahwa menikah pada bulan Muharram akan mendatangkan kesialan, seperti kecelakaan, kematian, dan kerugian lain. Muharram bukan bulan kesedihan, demikian juga Syawal dan Safar. Mitos kesialan itu jelas kontraproduktif dengan Al-Quran dan hadits. Menurut riwayat Bukhari, Aisyah dinikahi Rasulullah pada bulan Syawal, pernikahan Ali bin Abu Thalib dengan Fatimah juga disinyalir terjadi di bulan Safar.

Seharusnya kita kembali pada panduan Allah dan Rasulullah. Panduan yang benar dalam memuliakan Muharram adalah dengan berpuasa pada tanggal 10, dikenal dengan istilah puasa Asyura. Rasulullah bersabda, “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah pada bulan Allah yang mulia, yaitu Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat tahajud.” (HR Muslim).

Asyura merupakan kewajiban puasa pertama dalam Islam. Baru ketika kewajiban puasa Ramadhan turun, status hukum puasa Asyura berubah menjadi sunah. Hikmahnya, menghapuskan dosa selama setahun yang telah lewat. Simak hadits riwayat Aisyah berikut. “Adalah pada hari Asyura, kaum kafir Quraisy zaman Jahiliah berpuasa. Ketika Rasulullah datang di Madinah, beliau berpuasa dan memerintahkan (sahabat) supaya berpuasa. Maka ketika Allah mewajibkan puasa Ramadhan, beliau meninggalkan puasa Asyura, maka barang siapa berkenan silakan berpuasa, barang siapa meninggalkan juga silakan.” (HR Bukhari).

Asyura juga diyakini sebagai puasa Nabi Saleh. Pada tanggal 10 Muharram itu, Nabi Musa selamat dari kejaran tentara Firaun, Nabi Yunus keluar dari perut ikan, dan Nabi Nuh selamat dari banjir besar. Karena itu, ketika Rasulullah menyaksikan kaum Yahudi dan Nasrani di Madinah berpuasa pada tanggal itu, beliau kemudian memerintahkan puasa sejak tanggal 9 Muharram atau populer dengan istilah puasa Tasu’a. Alasan beliau ketika itu, supaya tradisi puasa umat Islam tidak menyamai tradisi Yahudi dan Nasrani. Sabda Rasulullah, “Apabila tahun depan, insya Allah kita berpuasa pada tanggal sembilan.” (HR Muslim).

Tetapi, tidak sampai mendapati Muharram di tahun depan, Rasulullah sudah meninggal dunia. Karena itu, puasa tanggal 9 Muharram statusnya sunnah hammiyah alias sunnah yang sudah dicita-citakan Rasulullah tetapi beliau belum sempat melakukan. Ibnu Qayim Al-Jauziyah membuat peringkat terkait puasa di bulan Muharram. Menurutnya, puasa bulan Muharram yang paling utama adalah tanggal 9, 10, 11. Tingkatan di bawahnya adalah puasa tanggal 9 dan 10. Yang terendah, puasa tanggal 10 saja.

Demikian, semoga kita semua dapat memuliakan bulan Muharram dengan rangkaian ibadah sesuai tuntunan Allah dan Rasulullah.


 
 
 
 

Saturday, November 24, 2012

HARI ASYURA - 10 Muharam – 7 peristiwa besar



10 Muharam di namakan juga dengan Hari Asyura kerana pada hari itu banyak terjadi peristiwa-peristiwa penting yang mencerminkan kegemilangan bagi pejuang yang gigih menegakkan syiar Islam.

7 PERISTIWA ANTARA YG BERLAKU PADA HARI ASYURA

·     Allah jadikan 7 petala langit dan 7 petala bumi. Allah jadikan bulan, bintang, matahari dan cakerawala. Allah jadikan Arasy, Loh Mahfuz, Kalam dan malaikat.

·     Allah mencipta Nabi Adam a.s. Allah menjadikan Hawa. Allah menjadikan syurga. Diampunkan dosa Nabi Adam a.s setelah bertahun-tahun memohon keampunan kerana melanggar larangan Allah – makan buah khuldi.

·     Nabi Nuh a.s diselamatkan oleh Allah keluar dari bahtera setelah bumi ditenggelami banjir selama 6 bulan.

·     Nabi Yunus a.s selamat keluar daripada perut ikan setelah berada di dalamnya selama 40 hari dan 40 malam.

·     Laut Merah terbelah dua untuk menyelamatkan Nabi Musa a.s bersama pengikutnya daripada tentera fir’aun. Fir’aun dan pengikutnya tenggelam ke dalam lautan tersebut.

·     Nabi Isa a.s di angkat ke syurga ketika di buru oleh tentera Rome untuk menyalib baginda.

·     Saidina Hussein ibni Ali telah syahid akibat di bunuh dgn kejam di Karbala oleh tentera Khalifah Bani Umaiyyah iaitu Khalifah yazid.


p/s: di galakkan berpuasa pada hari assyura, 10 muharram. tapi utk tidak di samakn dengan org yahudi yg juga berpuasa pda hari asyura, maka umat islam di galakkan berpuasa dua hari, 9 &10 muharram atau pun 10 & 11 muharram.. Allahu’alam... selamat beramal! ;)


Monday, November 19, 2012

peristiwa penting hijrah Rasulullah saw


di kopipes dari Ustaz Azhar Idrus ( Original )
selamat membaca dan menghayati... salam maal hijrah ;)
Beberapa Peristiwa Penting Dalam Hijrah Nabi Muhammad saw

* Kafir Quraisy berazam untuk membunuh Nabi Muhammad saw

* Malaikat Jibrail memberitahu kepada Nabi Muhammad saw berkenaan dengan rancangan jahat kaum Quraisy dan keizinan dari Allah swt kepada Nabi untuk berhijrah ke Madinah
* Nabi memberitahu kepada Abu Bakr tentang rancangan Hijrah ini
* Mereka keluar dari Mekkah, pergi ke gua Thur
* Orang Quraisy mencari Nabi sehingga sampai ke gua
* Abu Bakr gelisah dan takut dengan keselamatan Nabi ketika di gua
* Turunnya ayat Al-Quran, Surah At-Taubah : 40
* Mereka keluar dari gua selepas bersembunyi di situ selama 3 hari
* Suraqah mengejar Nabi dan janji Nabi kepada Suraqah
* Nabi tiba di Madinah
* Pembinaan Masjid Nabawi
* Mempersaudarakan antara Muhajirin dan Ansar

Istifadah Dari Peristiwa Hijrah Nabi saw


1. Musuh-musuh islam suka untuk membunuh para du’at

Sesungguhnya kafir Quraisy tidak hanya kekal di dalam kekufuran mereka, mereka juga menghalang manusia dari dakwah, membuat cerita bohong mengenai Nabi Muhammad saw, menyeksa sesiapa sahaja yang memeluk islam sehingga memaksa mereka berhijrah sebanyak dua kali ke Habsyah.

Mereka juga memboikot dan memulaukan Nabi saw, sesiapa sahaja yang mengikut baginda dan sesiapa yang ada hubungan dengannya.. Iaitu pemulauan ekonomi, dilarang melakukan sebarang urusniaga dengan mereka. Dan yang paling teruk sekali ialah apabila mereka bersepakat untuk membunuh Nabi saw. Caranya, mereka akan mengumpulkan pemuda-pemuda dari setiap kabilah dan menetak baginda secara serentak.


Namun begitu, Allah swt telah menyelamatkan baginda dan mematahkan rancangan jahat tersebut. Justeru, para duat tidak sepatutnya menjauhi orang-orang yang memusuhi dakwah ini, walaupun mereka cuba membinasakan kita dengan cara membunuh atau membuat tuduhan-tuduhan supaya kita dijatuhkan hukuman mati. Biasanya orang yang melakukan komplot-komplot ini adalah dari kalangan pemerintah dan pelaksana undang-undang.


Para duat perlu memahami dan menyedari bahawa tidak akan ada kehidupan yang tenang antara ahli batil dan ahli kebenaran, lebih-lebih lagi jika ahli batil itu adalah dikalangan orang yang mepunyai kuasa dan pangkat.


2. Mengambil asbab bagi setiap perbuatan

Para duat perlu mengambil setiap asbab yang dapat menggagalkan rancangan jahat musuh, jangan lalai sehingga terlaksananya rancangan mereka. Carilah asbab-asbab yang dapat menggagalkan rancangan jahat mereka.

Kita dapat lihat bagaimana Rasulullah saw menyuruh Ali r.a untuk tidur di atas katilnya, bagaimana baginda keluar dari rumahnya, bagaimana mereka bersembunyi di gua Thur dan menetap di situ selama beberapa hari supaya terlepas dari tipu daya kaum musyrikin.


Justeru, setiap duat perlu mengambil setiap jalan-jalan yang dibenarkan syarak supaya dapat menjauhi dari bahaya musuh seperti keluar dan menjauhi tempat tinggal mereka dan pergi ke rumah kawan-kawan yang dipercayai, bersembunyi di situ, tidak keluar darinya. Ataupun, tidak bercampur dengan mereka atau apa-apa sahaja jalan-jalan yang dibenarkan oleh syarak yang dapat menjauhkan para duat dari bahaya.


3. Perlunya berhati-hati

Para duat perlu sentiasa berwaspada dan berhati-hati, dia tidak boleh memberitahu orang lain sesuatu yang dapat menghalang dakwahnya, walaupun kepada keluarga sendiri sekiranya ia boleh membawa kepada kemudharatan.

Kita dapat lihat bagaimana ketika dia tiba di rumah Abu Bakr, dia telah : “Keluarkan semua orang selain dari engkau.” Baginda telah datang sambil menyamar iaitu dengan menutup kepalanya, dia datang pada waktu zohor, dan keluar dari rumah Abu Bakr dari pintu belakang. Semua ini menunjukkan kepada keharusan berhati-hati dan berwaspada dari musuh-musuh.


Justeru, para duat perlu melakukan semua ini, jangan menganggapnya sebagai tindakan seorang pengecut yang dikeji. Tetapi ia adalah satu perancangan yang tersusun dan menepati syarak.


4. Menyembunyikan nama, kerahsiaan

Para duat jika melihat suasana tidak sesuai dan perlu untuk menyembunyikan nama-nama mereka atau sebahagian dari mereka ataupun perwatakan duat. Ini dapat dilihat pada tindakan Abu Bakr ketika mereka di dalam perjalanan ke Yathrib (sebelum ditukar kepada Maidnah Al-Munawwarah). Para duat jangan lalai atau lupa dengan perkara ini.

Ketika di dalam perjalanan ke Madinah, Rasulullah berjalan di depan dan Abu Bakr di belakang. Jadi, apabila dia ditanya siapakah orang di depan itu, dia akan menjawab : “ Dia adalah penunjuk jalan ”. Maka orang yang bertanya itu akan menyangka bahawa jalan yang dimaksudkan adalah jalan yang biasa, tetapi hakikatnya ia adalah jalan ke arah kebaikan dan hidayah.


5. Beriman dengan mukjizat

Ketika Nabi Muhammad saw sedang berhijrah, telah berlaku beberapa mukjizat yang menjadi bukti kebersamaan Allah swt dalam menjaga rasul-Nya. Diantara apa yang diriwayatkan adalah ; sarang labah-labah dan burung merpati, dan tumbuhnya pokok di depan pintu gua. Begitu juga peristiwa antara baginda dan Ummu Ma’bad, Suraqah yang berjaya menjejaki nabi. Dia telah dijanjikan dengan kalung raja kisra.

Berkenaan dengan kisah burung merpati dan labah-labah, timbul satu persoalan. Adakah kedua-duanya benar-benar ada?


Dr. Yusuf Al-Qardawi mengatakan :

“Adapun merpati itu, tidak ada riwayat yang sohih atau hasan berkenaannya. Manakala labah-labah pula, terdapat riwayat mengenainya. Ada yang mengatakan ia hasan, ada pula yang mengatakan dhoif. Apa yang penting adalah, Allah swt mempunyai tentera-tentera. Boleh jadi labah-labah yang mana Allah swt menyifatkan sarangnya sebagai sarang yang rapuh."

Maksudnya: Misal bandingan orang-orang Yang menjadikan benda-benda Yang lain dari Allah sebagai pelindung-pelindung (yang diharapkan pertolongannya) adalah seperti labah-labah Yang membuat sarang (untuk menjadi tempat perlindungannya); padahal Sesungguhnya sarang-sarang Yang paling reput ialah sarang labah-labah, kalaulah mereka orang-orang Yang berpengetahuan.


Tidak peliklah jika Allah swt menjaga rasul-Nya dengan sarang yang rapuh atau Allah swt menjaganya tanpa ada asbab-asbab yang kita boleh lihat. Apa yang penting, rasul-Nya terjaga dan terpelihara.” [Khitabul Asy-Syeikh Al-Qardawi, juzu’ ke-4, dikumpulkan oleh Dr. Khalid Khalifah As-Saad]


Oleh itu, para duat tidak boleh menyembunyikan kisah ini malah perlu menyebutkannya selagimana ia disebutkan di dalam sunnah nabawiyyah. Katakanlah bahawa peristiwa ini menjadi bukti yang jelas kenabian Nabi Muhammad saw.


6. Meminta pertolongan dari kafir yang dipercayai

Para duat dibenarkan meminta pertolongan dari orang yang tidak beriman, selagimana dia dipercayai. Kita boleh lihat bagaimana Nabi Muhammad saw dan Abu Bakr mengupah seorang musyrik untuk menunjukkan jalan dalam penghijrahan mereka. Sedangkan ia adalah waktu yang genting dan merbahaya.

Tidak syak lagi bahawa nabi saw dan Abu Bakr mempercayai dan merasa aman dengannya. Ini menunjukkan bahawa orang-orang kafir, pelaku maksiat atau sesiapa yang tidak berkaitan dengan jemaah islam, pasti ada dikalangan mereka yang boleh dipercayai. Seperti mempunyai hubungan kekeluargaan, kenalan lama atau jiran.


Atau mereka dipercayai kerana mempunyai asas akhlak yang baik seperti amanah, suka kepada perkara kebaikan atau apa-apa sebab yang lain. Manakala, masalah-masalah lain yang mungkin timbul, ia bergantung kepada kebijaksanaan duat itu sendiri dan sejauh mana dia mengenali orang yang menolongnya.


7. Ketinggian kedudukan Abu Bakr As-Siddiq

Bagi setiap duat yang memperkatakan tentang peristiwa hijrah nabi saw, adalah mustahak untuk turut menyebutkan ketinggian kedudukan Abu Bakr di sisi Nabi Muhammad saw dan di sisi Islam. Buktinya, Nbi saw pergi berjumpa Abu Bakr dan memintanya untuk meneman bagi saw selepas mendapat keizinan daripada Allah swt untuk keluar berhijrah.

Manakala Abu Bakr pula, dia sangat takut jika berlaku sesuatu yang buruk kepada baginda saw ketika di gua Thur, kerana dia sangat mengasihi baginda saw lebih dari dirinya sendiri. Oleh itu, para duat perlu mengingatkan manusia akan kebaikan dan budi pekerti Abu Bakr ini, serta menjadikannya dan para sahabat umumnya sebagai qudwah dalam mencintai Nabi saw.


8. Kepentingan Masjid

Para duat perlu menggalakkan manusia supaya membina masjid di setiap kampung dan tempat tinggal serta menjaganya. Ini dilakukan supaya dapat mengingatkan manusia kepada solat, ibadah kepada Allah swt, perjumpaan untuk mengkaji kitab Allah dan sunnah Nabi saw dan sebagainya. Kita dapat lihat kepentingannya ketika mana Nabi saw tiba di Quba’, baginda telah membina masjid untuk kaum muslimin solat.

Justeru, para duat tidak boleh memandang ringan pembinaan masjid ini terutama di kampung-kampung sehingga kita meremehkan pembinaan dan pembaikannya, kerana pengimarahan masjid itu bergantung kepada solat yang ditunaikan di dalamnya disamping jumlah jemaah yang ramai. Tambahan pula, di antara medan dakwah para duat adalah di masjid disamping khutbah jumaat, supaya khutbah tersebut dapat mencapai tujuan yang syar’ie.


9. Bersama-sama melakukan perkara-perkara kebaikan

Apabila seseorang daie itu menyuruh manusia untuk melakukan sesuatu amalan kebaikan seperti membina masjid atau sekolah, membaik pulih jalanraya, mengambus lecak atau lopak, mananam pokok dan lain-lain perkara kebaikan, maka para duat mestilah sama-sama turun padang membantu mereka supaya dia dapat menjadi qudwah hasanah.

Kita dapat lihat bagaimana Rasulullah saw bekerja bersama-sama para sahabat dalam membina Masjid Nabawi di Madinah.begitu juga jika dia menggalakkan manusia untuk bersedekah, dia juga perlu melakukannya terlebih dahulu mengikut kadar kemampuannnya walaupun sedikit.


10. Nasyid untuk menaikkan semangat

Sebagimana yang kita tahu, para sahabat bernasyid dengan beberapa bait syair ketika mereka membina Masjid Nabawi di Madinah, sebagai perangsang kepada pekerja dan meningkatkan keazaman, dan Nabi saw tidak menghalangnya. Ini menunjukkan kepada keharusannya.

Oleh itu, para duat dibenarkan bernasyid sebagai perangsang dan pembangkit semangat untuk melakukan perkara kebaikan. Begitu juga dibenarkan menggunakan segala wasilah yang syar’ie sebagai perangsang.


Dr. Yusuf Al-Qaradawi ada mengatakan di dalam khutbah jumaatnya : 
   
Sesungguhnya hijrah Nabi saw meninggal satu tempat yang paling disayangi oleh baginda, paling disukai oleh Allah swt. Ia juga adalah tanah tempat tumpah darah baginda, tempat yang penuh kenangan baginya, tempat baginda membesar. Lebih-lebih lagi, ia adalah tanah haram Mekah Al-Mukarramah.

Namun begitu, jika bertemu antara tuntutan akidah dan kecintaan kepada tanah air, maka tuntutan akidah lebih tinggi kedudukannya dan perlu didahulukan ke atas yang lain. Tuntutan akidah juga lebih berharga dari keluarga, rumah, harta dan apa sahaja yang disukai oleh manusia.

Nabi saw telah berhijrah meninggalkan negaranya dan kawan-kawannya. Firman Allah swt yangbermaksud: "Iaitu mereka Yang diusir dari kampung halamannya Dengan tidak berdasarkan sebarang alasan Yang benar, (Mereka diusir) semata-mata kerana mereka berkata: Tuhan Kami ialah Allah". [Surah Al-Hajj : 40]

Semua itu lebih mudah untuk mereka tinggalkan berbanding dengan keredhaan Allah swt. Ini kerana mereka ingin membina sebuah Negara Islam, kerana islam perlu kepadanya. Sebuah begara yang terpisah yang dapat meningkatkan kalimah Allah di situ, dilaksanakan syariat islam, ditegakkan syiar-syiar Allah dan memperlihatkan kekuatan islam..

Wallahua'lam
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...